Deja vu

Published June 11, 2013 by bulbullucu

Sudah lama sekali aku tidak update blog ini. Yah, disamping karena sibuk dengan pekerjaan, juga karena memang belum ada ide untuk membuat lembaran tulisan baru di blog ini.

Beberapa bulan ini, ada beberapa peristiwa yang terjadi. Yang pertama, istri dari teman sekantor, divonis kanker rahim. Entah stadium berapa, menurut kabar yang beredar, kankernya sudah menyebar dan sudah menjalani radioterapi sekaligus kemoterapi di Bandung. Peristiwa yang kedua adalah Marko, tetanggaku. Bocah kecil sekitar 4 tahun, harus berjuang melawan kanker. Aku kurang tau gejala awal penyakit Marko. Yang aku tau, memang beberapa bulan yang lalu, ada benjolan besar di sekitar mata kirinya. Benjolan itu semakin membesar, sehingga harus dioperasi beberapa kali. Operasi Marko pun berhasil, sekarang tidak ada lagi benjolan di wajahnya. Mata kirinya pun sudah bisa berfungsi normal. Tetapi itu belum selesai. Marko harus menjalani kemoterapi, entah sampai berapa kali. Kata ibunya, kanker sudah sampai tulang, jadi harus kemoterapi terus sampai benar-benar mengecil. Jadi, tidak bisa dipastikan kapan kemoterapinya berakhir.

Yang aku kagumi dari bocah kecil itu adalah semangatnya. Di sela-sela waktu kemo, dia diperbolehkan pulang ke rumah. Aku lihat dia asyik bermain dengan teman-teman sebayanya. Dia berlari dan tertawa tanpa beban, tanpa kesedihan, dan tanpa rasa sakit. Ya, mungkin dia masih terlalu kecil untuk mengerti apa itu penyakit kanker sehingga dia pasrah dengan semua metode pengobatan dari dokter.  Mungkin yang dia tahu hanya tidur di kamar penuh selang, dengan beberapa orang berbaju putih berjalan mondar mandir. Dan mungkin saat dewasa nanti, dia pun tidak ingat apa yang terjadi saat itu.

Peristiwa ketiga, tentang kakak perempuanku. Deja vu. Kakakku harus berjuang melawan kanker sama seperti ibuku beberapa tahun yang lalu. Seperti menonton film untuk yang kedua kalinya, aku sudah tau endingnya, tetapi aku masih punya pilihan untuk menghentikan film itu dan membuang CDnya ke tempat sampah.

Sekitar setengah tahun yang lalu, dia divonis kanker payudara stadium II. Masih sangat kecil, kok, hanya sebesar butiran bakso. Masih sangat mudah untuk disembuhkan, kata dokter. Awalnya, dia rajin pergi ke dokter, sampai ada keputusan dari dokter bahwa payudaranya harus dioperasi. Tidak hanya kankernya, tetapi seluruh payudaranya harus diangkat. Disitulah awal kebimbangan dia.  Mulailah dia mencari-cari metode pengobatan yang lain selain operasi. Segala macam pengobatan alternatif dia coba, mulai dari yang paling tidak masuk akal sampai dokter pengobatan herbal.

Dokter itu menggunakan metode pengobatan herbal dari Belanda. Dokter itu sendiri pernah mengalami penyakit kanker, dia berhasil sembuh setelah berobat ke Belanda. Oleh karena itu, dia menerapkan pengobatan yang telah dia jalani dengan membuka praktek bagi penderita kanker di Indonesia. Banyak pasien yang berhasil membuat kankernya mengecil, tetapi tidak untuk kakakku. Kankernya kembali membesar.

Entah apa pengobatan yang kakakku jalani sekarang, yang jelas, sel kanker itu masih membesar……

 

Aku masih berharap ada cerita yang baik di akhir tulisan ini…. Aku sangat menyayanginya….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: