Bersahabat dengan Kemoterapi…

Published September 28, 2012 by bulbullucu

Bulan Mei 2010, awal dari rangkaian kemoterapi yang harus Ibuk lalui. Dokter menyatakan bahwa Ibuk menderita kanker lidah stadium IIIA. Aku kurang tahu detailnya seperti apa, yang aku tahu, bahwa kanker Ibuk belum menyebar ke organ lain. Oleh karena itu, dokter langsung memutuskan bahwa tiga kali kemoterapi cukup untuk menekan kanker itu dan selanjutnya akan diteruskan dengan radioterapi. Ibuk tidak tahu apa itu kemoterapi maupun radioterapi, yang beliau tahu hanya satu yaitu harapan untuk sembuh dan umur panjang.

Kemoterapi Pertama

Rencana dokter, kemoterapi akan dilaksanakan sebulan sekali, yaitu bulan Mei, Juni dan bulan Juli. Satu tahap kemoterapi dilakukan selama empat hari. Tentu saja bukan masalah besar untuk Ibuk yang sama sekali belum tahu apa pun soal kemoterapi. Menjelang kemo tahap pertama, Ibuk terlihat begitu semangat. Ibuk menyiapkan sendiri baju-baju dan perlengkapan lain ke dalam tas travel warna pink, yang akan beliau bawa ke RS nanti. Ibuk pun berpamitan kepada para tetangga, teman-temannya, sampai penjual sayur langganannya. Haha, Ibuk memang terkenal orang yang ramah kepada siapa saja. Beliau mempunyai banyak teman dan aktif di kumpulan ibu-ibu baik di kampung maupun di gereja. Itu sebabnya, Ibuk khawatir mereka mencari saat beliau menginap di RS.

Saat di RS, observasi mulai dilakukan untuk badan Ibuk. Ternyata tubuh Ibuk masih kurang kadar protein, dan kaliumnya. Maka tidak bisa langsung dilakukan kemo, mengingat efek samping kemo yang cukup berat. Ibuk harus banyak makan makanan bergizi yang sudah disediakan oleh RS. Selama beberapa hari memperbaiki fisik Ibuk, kemoterapi mulai dilakukan.

Kemoterapi adalah memasukkan cairan kimia  melalui infus untuk menekan sel-sel kanker. Satu hari satu botol infus kemo dimasukkan, sementara satu tahap, Ibuk membutuhkan empat botol infus kemo untuk menghentikan pertumbuhan sel kankernya. Selain itu, untuk menetralkan efek samping dari kemo itu sendiri, Ibuk harus minum dua macam obat, masing-masing 16 butir obat sekali minum. Semua diminum dua kali sehari.

Satu botol pertama, Ibuk belum merasakan efek apapun. Ibuk masih terlihat segar, masih bercanda, dan tertawa. Waktu itu aku sempat terheran-heran, ternyata Ibuku adalah Super Woman. Umumnya, orang merasa sakit sejak botol kemo pertama, tetapi Ibuk tidak merasakan apa-apa, berarti Ibuk lebih kuat daripada orang lain. Setelah botol kedua, Ibuk baru merasa sedikit mual tetapi Ibuk masih bisa menahan. Kebetulan dokter tidak melarang Ibuk makan apa saja. Jadi, apapun yang Ibuk minta, Ibuk boleh makan.

Aku pulang waktu itu dan berniat menunggui Ibuk di RS. Ibuk menolaknya, Ibuk tidak mengijinkan aku tidur di RS, karena Ibuk tidak mau aku sakit. Itulah hebatnya Ibuk, di saat Ibuk sendiri merasa kesakitan, Ibuk masih memikirkan anak-anaknya. Bagi Ibuk, lebih baik tidur di RS sendirian, daripada aku sakit karena menungguinya.

Botol kemo ketiga, Ibuk semakin lemah. Rasa mual semakin hebat, ditambah Ibuk tidak mau makan apa-apa. Ibuk mulai mengeluh nyeri di ulu hati, dan tulangnya sakit semua. Ditambah lagi siksaan minum obat 32 butir sekali minum. Benar-benar tidak tega aku melihatnya, tetapi mau bagaimana lagi itulah cara berperang melawan sel kanker.

Botol kemo keempat, semakin menyiksa. Tetapi Ibuk mulai bersemangat kembali, karena ini botol terakhir untuk kali ini. Aku sempat mengajukan protes kepada tim dokter yang menangani Ibuku. Bagaimana bisa orang meminum 32 butir obat sekali minum. Orang sehat saja tidak sanggup, apalagi orang dengan kondisi sakit seperti Ibuk. Aku pun meminta mereka mengusahakan supaya obatnya diganti dengan kandungan miligram yang lebih besar, sehingga Ibuk hanya perlu menelan dalam jumlah butir yang lebih sedikit. Jawaban mereka hanya sederhana, mereka tidak punya stok. Ya, sudahlah, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Aku pun kembali ke Jakarta. Aku tidak bisa cuti terlalu lama karena aku harus bolak-balik Jakarta-Jogja selama Ibuk sakit. Aku harus menghemat jatah cuti tahunanku. Ibuk masih berada di RS untuk pemulihan fisiknya yang terlalu lemah.

Suatu hari Ibuk menelponku, beliau berkata kalau baru saja jatuh di kamar mandi di RS. Untung saja banyak orang yang tahu dan menolong. Kamar Ibuk adalah kamar kelas III. Seharusnya Ibuk mendapat jatah kamar kelas I dari AsKes, tetapi kami takut kalau nanti biaya akan membengkak. Kami tidak tahu pasti berapa lama Ibuk harus bolak-balik dirawat di RS, sehingga kami tidak bisa memperkirakan berapa biaya yang harus kami rencanakan untuk pengobatan Ibuk. Kami takut seandainya biayanya akan jauh lebih besar daripada jatah yang diberikan oleh AsKes.

Ibuk masih dirawat selama dua minggu lagi untuk pemulihan. Setelah itu, Ibuk bisa melanjutkan istirahat di rumah selama satu minggu. Dan minggu berikutnya, Ibuk harus masuk RS lagi untuk persiapan kemo berikutnya. Benar-benar tahapan yang sangat melelahkan.

Kemoterapi Kedua dan Ketiga

Selama Ibuk menjalani kemoterapi kedua dan ketiga, aku tidak dapat pulang ke Jogja. Aku harus banyak berhemat karena waktu itu ayah dari calon suamiku dirawat di RS juga, beliau sakit dan akhirnya pergi meninggalkan kami semua untuk selamanya. Aku hanya mengetahui perkembangan Ibuk lewat telpon baik dari Ibuk sendiri maupun dari kedua kakakku, atau kedua kakak iparku.

Efek samping kemo kedua dan ketiga tidak jauh berbeda dengan kemo yang pertama. Hanya saja, kali ini, Ibuk tidak lagi harus minum obat 32 butir sekali minum, tetapi obat penetral kemo diberikan dengan cara disuntikkan. Oh, berarti protes yang aku ajukan waktu itu benar-benar didengar oleh tim dokter. Perkembangan yang cukup bagus untuk RS sekelas RS Pemerintah.  Setelah kemo kedua, rambut Ibuk mulai mengalami kerontokan. Setiap kali beliau menyisir rambut, segenggam helaian rambut terlepas dari kulit kepalanya. Tanpa terasa dapat satu kantong plastik. Emosi Ibuk pun mulai tidak stabil. Yah, mungkin karena Ibuk merasakan sakit yang amat sangat, sehingga membuat Ibuk menjadi sering marah-marah sendiri.

Ibuk mulai bersemangat kembali setelah kemoterapi tahap ketiga karena direncanakan menjadi kemo terakhir.  Selain itu, menurut dokter, perkembangan Ibuk cukup bagus. Sel-sel kanker mulai mengecil, dan luka di lidah Ibuk sudah bersih. Kali ini Ibuk hanya perlu memulihkan kondisi badan setelah dihajar cairan kemoterapi dan mempersiapkan diri menuju tahap pengobatan berikutnya yaitu radioterapi.

Aku sangat bangga dan bersyukur mempunyai Ibuk yang sangat kuat, Ibuk yang hebat, dan Ibuk yang semangat.  The power of “SEMANGAT”. Kata-kata yang sangat sederhana, namun mempunyai kekuatan yang luar biasa besar.

Terimakasih Tuhan atas penyertaanMu, sehingga Ibuk kami bisa bertahan hingga sejauh ini…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: