Perjalanan menuju Radioterapi….

Published September 26, 2012 by bulbullucu

Sekitar bulan Agustus 2010, Ibuk selesai menjalani kemoterapi ketiganya. Sesuatu yang membuat kami bangga adalah semangat dan harapan Ibuk untuk sembuh. Itulah yang membuat Ibuk memiliki kekuatan untuk menjalani proses pengobatan yang cukup berat dan menyakitkan. Meskipun badan Ibuk menjadi sangat kurus, dan rambutnya tinggal beberapa helai saja yang tersisa. Beliau pun rajin kontrol ke RS dan selalu mengikuti apa saran dokter. Setelah tiga kali menjalani kemoterapi, rencananya Ibuk akan menjalani radioterapi atau biasa disebut terapi penyinaran. Ibuk sangat bersemangat untuk menjalaninya, karena harapan Ibuk untuk sembuh sangat besar. Beliau ingin sekali diberi umur panjang, agar bisa menyaksikan cucu-cucunya beranjak dewasa.

Pagi itu, Ibuk sudah siap akan menemui dokter ahli bedah kanker idolanya. Kebetulan waktu itu aku ada di rumah, jadi aku pun siap untuk mengantar Ibuk. Sesampainya ke RS, kami pun mengantri. Oya, Ibuk adalah peserta AsKes dari Bapak yang dulu adalah pensiunan PNS. Thanks AsKes, karena kami sangat terbantu untuk biaya pengobatan Ibuk.  Tibalah giliran Ibuk untuk menemui dokter. Dokter sangat memuji semangat Ibuk. Luka kanker Ibuk di lidah sudah tidak ada lagi dan kata dokter, sel kankernya sudah mulai mengecil. Tetapi untuk pelaksanaan radioterapi, Ibuk harus menunggu sampai bulan November, karena pasien AsKes yang membutuhkan radioterapi sangat banyak, jadi harus antri. Selama menunggu, Ibuk harus menjalani kemoterapi lagi sampai tiba giliran untuk radioterapi. Lalu dokter memberi tawaran kepada kami, Ibuk bisa menjalani radioterapi dalam waktu dekat, bahkan saat ini juga tetapi di luar AsKes atau dengan dana pribadi. Waktu itu, dokter menyebutkan dana sebesar 12 juta. Entah untuk sekali radioterapi, atau untuk satu paket yang terdiri dari 25 kali penyinaran. Itulah awal mula kebingungan kami, mengingat di rekeningku tidak ada uang sebanyak itu. Kami pun pulang.

Sampai di rumah, kami semua berembug. Ibuk tidak mau lagi di kemo, dia sangat takut dan trauma dengan rasa sakitnya. Sementara kami tidak ada dana sebesar 12 juta. Akhirnya dengan sangat menyesal, kami memutuskan untuk tidak menerima tawaran dokter. Jadi Ibuk harus kemo lagi selama tiga bulan kedepan. Saat itu Ibuk menggangguk, aku tahu, Ibuk sudah tidak lagi bersemangat seperti kemarin. Penyesalan yang masih tersisa di hati sampai saat ini, kalau saja, aku mau berusaha mencarikan dana itu entah dari mana dan bagaimana caranya, mungkin Ibuk masih ada bersama kami. Tetapi, ini semua adalah rencana Tuhan, dan kita tidak akan mampu mengubahnya.

Pengobatan alternatif

Ada seorang Pastor yang cukup dekat dengan keluarga kami, beliau pernah divonis kanker paru-paru entah stadium berapa. Selama ini beliau menjalani pengobatan alternatif, dan masih sehat sampai saat ini. Oleh karena itu, beliau merekomendasikan pengobatan itu kepada Ibuk. Empat bulan, Ibuk menjalani pengobatan alternatif itu. Ibuk pun kembali bersemangat, harapan untuk sembuh pun datang kembali. Namun, selama itu pula Ibuk tidak kontrol ke RS. Itu yang salah, seharusnya, pengobatan alternatif bisa sejalan dengan pengobatan medis.

Leher Ibuk Bengkak

25 Desember 2010, hari Natal pun tiba. Aku pulang ke Jogja, dan kami merayakan hari Natal sekeluarga. Ibuk terlihat semakin sehat, badannya semakin segar, dan rambutnya sudah tumbuh kembali. Tapi Ibuk pun semakin lupa untuk ke RS. Kami sangat bahagia waktu itu, setiap aku pulang, Ibuk tidak pernah lupa untuk menyiapkan makanan kesukaanku dan menyiapkan kamarku.

31 Desember 2010, malam tahun baru. Seberang rumah kami, ada apartemen, yang saat itu mengadakan pesta kembang api malam tahun baru. Kami pun menontonnya cukup dari halaman rumah kami. Aku bersyukur dalam hati, karena sampai pergantian tahun ini, Ibuk masih ada bersama dengan kami. Tahun baru, tahun 2011, harapan baru, harapan yang sangat sederhana yaitu kesempatan untuk bersama-sama Ibuk sampai pergantian tahun berikutnya dan berikutnya lagi.

Setelah tahun baru, aku pun berpamitan untuk terbang kembali ke Jakarta. Aku baru sadar, leher Ibuk sedikit bengkak, tapi seperti biasa, kalau aku bertanya, jawaban Ibuk hanya satu, “Ndak apa-apa.” Itu saja. Waktu itu aku berpikir, mungkin memang bukan apa-apa, jadi aku pun berangkat ke Jakarta dengan tenang.

Maret 2011, leher Ibuk semakin membengkak. Kami sudah membujuknya untuk ke RS berkali-kali, tetapi Ibuk tidak pernah mau. Ibuk masih sangat trauma dengan kemo.

April 2011, leher Ibuk luka dan pendarahan hebat. Darah mengucur deras sampai sebaskom kata kakak perempuanku. Tak bisa kubayangkan, betapa Ibuk menahan rasa sakit yang luar biasa, tetapi Ibuk masih saja tersenyum dan meyakinkan kami bahwa beliau tidak apa-apa. Beberapa hari kemudian, Ibuk pergi ke rumah Simbah (nenek) di Klaten. Pikirku, ada apa Ibuk pergi ke sana? atau Ibuk sudah sehat?. Oh, tenyata, hari itu adalah peringatan satu tahun meninggalnya adik bungsu Ibuk, itu sebabnya Ibuk harus pergi. Tetapi ternyata Ibuk punya tujuan yang lain, Ibuk mau minta maaf atas semua kesalahannya pada Simbah. Entah apa yang beliau pikirkan waktu itu. Sulit sekali untuk dimengerti….

14 April 2011, kakak perempuanku melahirkan anak keduanya. Setelah mereka pulang dari RS, Ibuk menggendong cucu perempuan keempatnya itu, untuk pertama dan terakhir kalinya….

Akhirnya Radioterapi Juga

Beberapa hari sesudahnya, masih di bulan April 2011, Ibuk menyerah. Badan Ibuk lemas karena kehabisan darah, dan Ibuk mau dibawa ke RS. Setelah di RS, seperti biasa, dokter kembali melakukan observasi mengenai luka di leher Ibuk. Pada saat bersamaan, semua sibuk mencari donor darah golongan O untuk ditranfusikan ke tubuh Ibuk.

Aku pun kembali pulang, aku ingin tahu, ada apa sebenarnya. Perjalanan pulang sangat buruk. Cuaca di luar hujan badai, pesawat hampir saja kehilangan ketinggiannya. Para penumpang histeris, anak kecil menangis, semua panik. Aku hanya bisa berdoa,”Ya Tuhan, beri aku kesempatan hidup dan ijinkan aku bertemu Ibuku..” Tuhan pun mengabulkannya, pesawat berhasil turun walaupun hard landing. Setelah turun dari pesawat, aku langsung menuju ke RS.

Di RS, setelah bertemu dokter, semua sudah terjawab. Kanker Ibuk sudah menyebar, kemungkinan untuk sembuh sangat tipis. Dokter tetap mengupayakan pelaksanaan radioterapi segera. Tetapi itu sudah tidak efektif lagi. Semua sudah terlambat.

Sebulan Ibuk di RS, radioterapi pun sempat dilakukan satu kali penyinaran. Tetapi fisik Ibuk sudah tidak kuat lagi. Entah sudah berapa orang yang kami minta untuk donor, entah sudah berapa liter darah ditranfusikan ke tubuh Ibuk, entah berapa butir morphin yang sudah ditelan Ibuk. Itu semua percuma.

Yang bisa kami lakukan hanyalah memanfaatkan waktu yang tersisa. Entah berapa lama lagi kami punya kesempatan memeluk, mencium, dan bercanda dengan Ibuk, setahun, sebulan, seminggu, sehari, sejam, atau hanya beberapa detik saja…….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: