Masih jelas teringat peristiwa itu..

Published September 24, 2012 by bulbullucu

25 Mei 2011, aku masih ingat peristiwa itu. Pagi-pagi, aku ke kantor dengan mata bengkak, karena malamnya tidak bisa tidur. Perasaanku tidak enak, ingin rasanya pulang ke Jogja hari itu dan menemui ibuku yang terbaring di RS., tetapi ada pekerjaan di kantor yang tidak bisa menunggu dan aku sudah berkali-kali ijin untuk menengok Ibuk yang sakit dari sebulan yang lalu.

Sekitar pukul 09.00 pagi, kakak laki-laki ku bertanya lewat Yahoo Messenger, “Bagaimana kalau Ibu dimintakan Sakramen Minyak Suci saja?” aku pun menjawab,”Untuk apa?”. Langsung terlintas di benakku, ada apa dengan Ibuk. Tetapi saat itu kakakku menjawab “Ya kalau sembuh kan tidak apa-apa.” Hampir bersamaan, istrinya menelponku, memberi kabar kalau Ibuk sudah tidak sadar, kejang, dan susah bernafas. Saat itu juga aku memutuskan pulang ke Jogja dan mendapatkan tiket pesawat pukul 17.00.

Pesawat pun landing di Bandara Adisucipto, Jogja. Dengan terburu-buru aku turun dari pesawat, tanpa bagasi, lalu berlari mencari taksi menuju RS tempat Ibuk dirawat.

Sesampainya di kamar Ibuk, aku melihatnya, sudah tidak bisa tersenyum menyambutku pulang, entah beliau melihatku atau tidak. Badannya penuh selang, nafasnya terengah-engah, bola mata tidak merespon, Ibuk tidak sadar sama sekali. Aku hanya bisa memegang tangannya, dan mencium keningnya saja. Kami berdoa bersama waktu itu. kemudian kedua kakakku pulang ke rumah. Tinggallah aku, perawat Ibuk, dan teman kakak iparku.

Pukul 22.00 ada berita, bahwa paket kirimanku dari bekasi untuk Ibuk sampai di rumah kakak. Oya, seminggu sebelumnya, Ibuk minta dibelikan radio kecil, supaya tidak bosan tidur di RS. Pacarku (sekarang suamiku) membelikannya dan mengirimkannya ke Jogja. Thanks TIKI, sudah mengirimkannya lebih cepat dari perkiraan kami. Buru-buru kakak menyuruh temannya untuk membawa radio itu ke RS. Setelah radio itu sampai, aku sempat berbisik di telinga Ibuk, “Ini hadiah ulangtahun Koko dan aku untuk Ibuk”. Kunyalakan radio, aku dekatkan di telinga Ibuk. Yah, kalau Ibuk bisa mendengar, pasti Ibuk senang sekali.

5 menit kemudian, Ibuk menghembuskan nafas terakhirnya. Para dokter dan perawat datang, mencari denyut nadi Ibuk. Tetapi semua sia-sia. Ibuk sudah pergi….

Satu jam kemudian, jenazah Ibuk dibawa ke kamar jenazah untuk dimandikan. Oya, Ibuk sakit kanker, awalnya di lidah, pindah ke leher dan sudah menjalar sampai ke otak. Di leher ada luka terbuka yang terus menerus mengeluarkan darah. Petugas membuka perban di leher Ibuk. Tanpa sadar aku berteriak sekerasnya. Aku kaget, melihat luka Ibuk yang sangat parah. Leher itu sudah tidak ada kulit, tidak ada daging, hanya terlihat tulang, dan urat-urat. Aku tidak bisa membayangkan betapa Ibuk menahan rasa yang amat sangat sakit waktu itu. Tetapi Ibuk tidak pernah mengeluh, dia selalu saja bilang, “Ibuk tidak apa-apa” dan senyum selalu muncul di wajahnya.

Hari Kamis, 26 Mei 2011, Ibuk dimakamkan di samping makam Bapak. Kami hanya bisa melepas kepergiannya dengan doa,

Selamat jalan Ibuk, salam untuk Bapak, Semoga kalian berdua berbahagia di Surga!

Gambar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: